sekolahsalor.com

Loading

naskah drama pendek 6 orang tentang sekolah

naskah drama pendek 6 orang tentang sekolah

Naskah Drama Pendek: “Ekskul Impian” (6 Orang, Tema Sekolah)

Latar: Ruang kelas yang berantakan setelah jam sekolah. Tas berserakan, papan tulis penuh coretan, dan beberapa kursi terbalik.

Karakter:

  • Rina: Siswi kelas XII, ketua OSIS yang perfeksionis dan ambisius.
  • Budi: Siswa kelas XI, wakil ketua OSIS, santai dan idealis.
  • Siti: Siswi kelas X, anggota OSIS baru, pemalu dan ingin berkontribusi.
  • Andi: Siswa kelas XI, anggota OSIS yang humoris dan sering melawak.
  • Dewi: Siswi kelas XII, anggota OSIS yang realistis dan skeptis.
  • Pak Heru: Guru pembimbing OSIS, bijaksana dan sabar.

Adegan 1:

(Rina, Budi, Siti, Andi, dan Dewi berkumpul di ruang kelas. Rina mondar-mandir dengan gelisah.)

Rina: Oke, semuanya, kita harus memutuskan ekskul baru apa yang akan kita ajukan ke sekolah. Deadline-nya minggu depan! Kita harus punya ide brilian!

Budi: (Duduk santai di kursi) Tenang, Rina. Jangan terlalu tegang. Ide itu akan datang sendiri. Mungkin sambil ngopi?

Rina: Ngopi? Budi, ini bukan waktunya santai! Kita harus memikirkan masa depan sekolah! Ekskul baru ini bisa jadi warisan kita!

Siti: (Dengan suara pelan) Em… bagaimana kalau ekskul jurnalistik sekolah? Kita bisa bikin majalah dinding yang lebih keren atau website berita sekolah.

Andi: (Tertawa) Jurnalistik? Siti, anak zaman sekarang mana yang baca majalah dinding? Mending ekskul TikTok! Dijamin langsung viral!

Dewi: (Memutar mata) TikTok? Andi, sekolah ini bukan ajang cari sensasi. Kita butuh ekskul yang bermanfaat dan mengembangkan potensi siswa.

Rina: Dewi benar. TikTok terlalu… kontroversial. Siti, ide jurnalistik itu bagus, tapi kurang greget. Kita butuh sesuatu yang lebih inovatif. Budi, ada ide?

Budi: (Berpikir sejenak) Bagaimana kalau ekskul lingkungan hidup? Kita bisa bikin program daur ulang, bersih-bersih lingkungan sekolah, atau bahkan bikin kebun sayur organik.

Rina: (Mengerutkan kening) Lingkungan hidup? Lumayan, tapi kurang menarik perhatian siswa. Kita butuh sesuatu yang lebih… kekinian.

Andi: (Menjentikkan jari) Aha! Ekskul e-sports! Pasti banyak yang minat! Kita bisa latihan bareng, ikut turnamen, dan jadi juara!

Dewi: (Sambil menggelengkan kepala) E-sports? Itu cuma buang-buang waktu di depan komputer. Mending ekskul seni rupa. Bisa melukis, menggambar, atau bikin kerajinan tangan.

Rina: Oke, oke, cukup! Semuanya punya ide bagus, tapi belum ada yang benar-benar pas. Kita harus menggabungkan semua ide ini jadi satu ekskul yang super keren!

(Semua terdiam, berpikir keras.)

Adegan 2:

(Pak Heru masuk ke ruang kelas. Dia membawa setumpuk kertas.)

Pak Heru: Selamat sore, anak-anak. Sedang rapat OSIS, ya? Ada masalah?

Rina: (Berdiri tegak) Selamat sore, Pak Heru. Kami sedang kesulitan menentukan ekskul baru apa yang akan kami ajukan.

Pak Heru: Oh, ya? Memang ide-ide apa saja yang sudah kalian punya?

(Rina, Budi, Siti, Andi, dan Dewi menjelaskan ide-ide mereka kepada Pak Heru.)

Pak Heru: (Setelah mendengarkan dengan seksama) Ide-ide kalian bagus semua. Tapi, saya rasa, kalian terlalu fokus pada apa yang kalian inginkan, bukan apa yang dibutuhkan siswa lain.

Rina: Maksud Bapak?

Pak Heru: Coba pikirkan, apa masalah yang sering dihadapi siswa di sekolah ini? Apa yang bisa kalian lakukan untuk membantu mereka?

(Semua terdiam lagi, berpikir.)

Siti: (Dengan ragu-ragu) Em… banyak siswa yang kesulitan belajar, Pak. Mereka butuh bantuan tambahan.

Budi: Iya, betul. Banyak juga yang merasa minder atau tidak percaya diri. Mereka butuh wadah untuk mengembangkan diri.

Andi: Dan banyak juga yang merasa bosan dengan pelajaran di kelas. Mereka butuh kegiatan yang lebih menyenangkan dan kreatif.

Dewi: Serta banyak yang tidak tahu mau kuliah atau kerja apa setelah lulus. Mereka butuh bimbingan karir.

Rina: (Matanya berbinar) Bapak benar! Kita terlalu fokus pada hal-hal yang keren, tapi melupakan kebutuhan siswa yang sebenarnya.

Pak Heru: Nah, sekarang coba gabungkan semua kebutuhan itu jadi satu ekskul. Saya yakin kalian bisa menemukan solusinya.

(Pak Heru tersenyum dan meninggalkan ruang kelas.)

Adegan 3:

(Rina, Budi, Siti, Andi, dan Dewi kembali berdiskusi dengan semangat baru.)

Rina: Oke, kita mulai dari masalah kesulitan belajar. Siti, bagaimana kalau kita bikin kelompok belajar sebaya? Siswa yang pintar bisa membantu siswa yang kesulitan.

Siti: Ide bagus, Rina! Kita bisa bikin jadwal belajar bersama dan materi-materi tambahan.

Budi: Lalu, untuk masalah kepercayaan diri, bagaimana kalau kita bikin pelatihan public speaking atau workshop pengembangan diri?

Andi: Dan untuk masalah kebosanan, kita bisa bikin kegiatan-kegiatan kreatif seperti pentas seni, lomba menulis, atau bahkan bikin film pendek!

Dewi: Terakhir, untuk masalah karir, kita bisa mengundang alumni atau profesional dari berbagai bidang untuk memberikan seminar atau workshop.

Rina: (Berdiri dengan senyum lebar) Ini dia! Kita akan mengajukan ekskul “Pengembangan Diri dan Potensi Siswa”! Kita akan menggabungkan semua ide kita jadi satu ekskul yang super bermanfaat!

Budi: (Mengacungkan jempol) Setuju! Ini baru namanya ekskul impian!

Siti: (Tersenyum malu-malu) Saya senang bisa berkontribusi.

Andi: (Tertawa) Dijamin ekskul kita bakal jadi yang paling populer di sekolah!

Dewi: (Tersenyum tipis) Semoga saja. Tapi yang terpenting, kita bisa membantu teman-teman kita.

Rina: (Menatap teman-temannya dengan bangga) Kita pasti bisa! Bersama, kita bisa membuat perubahan positif di sekolah ini!

(Semua saling tersenyum dan bersalaman, penuh semangat untuk mewujudkan ekskul impian mereka.)