cerpen singkat tentang sekolah
Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Mengukir Jejak di Antara Dinding Kelas
Judul: Aroma Kapur dan Mimpi Tertunda
Lantai kelas dua belas IPA-3 berderit pelan di bawah langkah kaki Riana. Pagi itu, aroma kapur dan debu buku terasa lebih pekat dari biasanya. Bukan aroma yang menyenangkan, melainkan pengingat tajam akan Ujian Nasional yang tinggal menghitung hari. Riana menghembuskan napas panjang, mencoba mengusir bayangan soal-soal fisika yang semalam menghantuinya.
Dia bukan tipe anak yang menonjol di kelas. Nilainya standar, pergaulannya terbatas pada beberapa sahabat dekat. Riana lebih suka mengamati, menyerap kejadian di sekitarnya, dan menuangkannya dalam coretan-coretan di buku catatannya. Mimpi Riana sederhana: menjadi penulis. Namun, impian itu seringkali terbentur tembok realita, tembok bernama Ujian Nasional, tembok bernama harapan orang tua yang menginginkannya menjadi dokter.
Di bangku pojok kelas, sudah duduk Budi, sahabat karibnya sejak SMP. Budi, si jenius matematika, selalu terlihat tenang menghadapi ujian. Rambutnya yang selalu berantakan dan senyumnya yang lebar seolah menularkan optimisme.
“Pagi, Ri,” sapa Budi, mengangkat alisnya. “Muka lo kusut banget. Mimpi buruk lagi soal integral?”
Riana tertawa kecil. “Lebih buruk dari integral, Bud. Mimpi ketemu Einstein yang nyuruh gue ngitung kecepatan cahaya sambil lari maraton.”
Budi terkekeh. “Santai aja, Ri. Ingat kata Bu Sinta, yang penting usaha. Hasilnya serahkan sama Yang di Atas.”
Bu Sinta, guru Bahasa Indonesia yang paling disukai Riana. Bukan hanya karena cara mengajarnya yang menarik, tapi juga karena Bu Sinta selalu mendukung minat menulisnya. Beliau sering memberikan tugas menulis cerpen pendek, puisi, atau esai, dan selalu memberikan umpan balik yang konstruktif. Bu Sinta adalah satu-satunya orang di sekolah yang tahu tentang mimpi Riana.
Pelajaran pertama hari itu adalah Fisika. Pak Anton, guru fisika yang terkenal disiplin dan tegas, sudah berdiri di depan kelas dengan tatapan mengintimidasi. Riana menelan ludah, mencoba fokus pada penjelasan Pak Anton tentang hukum Newton. Namun, pikirannya terus melayang. Dia membayangkan dirinya duduk di depan laptop, mengetik cerita dengan jari-jari lincah, menciptakan dunia baru dengan kata-kata.
Saat jam istirahat tiba, Riana dan Budi pergi ke kantin. Suasana kantin selalu ramai dan bising. Aroma gorengan dan mie instan bercampur menjadi satu. Riana hanya membeli segelas es teh, sementara Budi memesan seporsi mie ayam jumbo.
“Lo serius mau jadi dokter, Ri?” tanya Budi sambil mengunyah mie.
Riana mengaduk-aduk es tehnya. “Nyokap bokap sih maunya gitu. Katanya masa depan dokter lebih terjamin.”
“Tapi lo kan pengen jadi penulis,” kata Budi, menatap Riana dengan serius. “Kenapa nggak lo coba bicarain sama mereka?”
Riana menghela napas. “Udah, Bud. Tapi mereka nggak ngerti. Mereka bilang nulis itu cuma hobi, bukan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang.”
Budi terdiam sejenak. “Gue ngerti sih, Ri. Tapi lo harus berani memperjuangkan apa yang lo pengen. Jangan sampai lo nyesel di kemudian hari.”
Bel masuk berdering, memecah percakapan mereka. Riana dan Budi kembali ke kelas. Pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Indonesia. Riana merasa sedikit bersemangat. Setidaknya, dia bisa sedikit melupakan soal-soal fisika yang rumit.
Bu Sinta masuk ke kelas dengan senyum ramah. “Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita akan membahas tentang cerpen. Siapa yang mau membacakan cerpen karyanya di depan kelas?”
Riana mengangkat tangannya ragu-ragu. Dia sebenarnya malu dan gugup, tapi dorongan untuk berbagi karyanya lebih besar daripada rasa malunya.
“Riana, silakan maju,” kata Bu Sinta, tersenyum menyemangati.
Riana berjalan ke depan kelas dengan jantung berdebar-debar. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai membacakan cerpennya. Cerpen itu bercerita tentang seorang anak perempuan yang bermimpi menjadi astronot, tapi terhalang oleh keterbatasan ekonomi keluarganya.
Saat Riana selesai membaca, kelas hening sejenak. Kemudian, tepuk tangan meriah menggema di seluruh ruangan. Bu Sinta tersenyum bangga.
“Cerpen yang sangat bagus, Riana,” kata Bu Sinta. “Kamu punya bakat yang luar biasa. Jangan pernah berhenti menulis.”
Kata-kata Bu Sinta terasa seperti angin segar bagi Riana. Dia merasa lebih percaya diri dan termotivasi. Mungkin, menjadi penulis bukanlah mimpi yang mustahil.
Setelah pelajaran selesai, Bu Sinta memanggil Riana. “Riana, saya ingin bicara sebentar,” kata Bu Sinta.
Riana mendekat. “Ada apa, Bu?”
“Saya tahu kamu punya impian menjadi penulis. Jangan pernah menyerah pada impianmu,” kata Bu Sinta. “Saya punya kenalan seorang editor di sebuah penerbitan. Kalau kamu mau, saya bisa mengenalkan kamu padanya.”
Mata Riana berbinar-binar. “Benarkah, Bu? Saya mau sekali!”
Bu Sinta tersenyum. “Bagus. Saya akan atur pertemuannya. Tapi ingat, Riana, kamu juga harus tetap belajar dengan giat. Ujian Nasional tetap penting. Jangan sampai impianmu menghambat pendidikanmu.”
Riana mengangguk tegas. “Terima kasih banyak, Bu. Saya berjanji akan giat belajar dan terus menulis.”
Hari itu, Riana pulang dengan hati yang lebih ringan. Aroma kapur dan debu buku di sekolah tidak lagi terasa menyesakkan. Sebaliknya, aroma itu kini terasa seperti aroma harapan, aroma mimpi yang mulai menemukan jalannya. Dia tahu, jalan menuju impiannya tidak akan mudah. Akan ada banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapi. Tapi, dia tidak akan menyerah. Dia akan terus menulis, mengukir jejak di antara dinding kelas, hingga mimpinya menjadi kenyataan. Ujian Nasional bukan lagi tembok penghalang, melainkan batu loncatan menuju masa depan yang lebih cerah. Mimpi tertunda kini menemukan ruang untuk bertumbuh, disiram dengan semangat dan dukungan dari orang-orang yang percaya padanya.

